Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku Utara, M. Taufan Baba

TERNATE – Langkah progresif Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara menggagas program beasiswa “Generasi Emas” mendapat apresiasi dari kalangan mahasiswa.
Program yang melibatkan organisasi kepemudaan OKP Cipayung Plus dinilai sebagai langkah strategis yang menempatkan kepolisian tidak hanya sebagai institusi penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembangunan sumber daya manusia.
Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku Utara, M. Taufan Baba, menilai program tersebut harus dibaca lebih jauh sebagai investasi sosial dan intelektual bagi masa depan Maluku Utara. Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi harus menjadi instrumen nyata untuk memutus mata rantai ketimpangan dan keterbatasan ekonomi.
“Kami mengapresiasi langkah Polda Maluku Utara menggagas Beasiswa Generasi Emas. Ini bukan sekadar bantuan pendidikan, tetapi investasi terhadap manusia. Sebab, kekayaan daerah tidak akan memiliki arti strategis jika tidak diikuti dengan kualitas SDM yang mampu mengelolanya,” tegas Taufan.
Ia menyoroti masih adanya persoalan biaya pendidikan dan kesenjangan akses yang membuat sebagian pelajar maupun mahasiswa berprestasi kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, menurutnya, beasiswa harus diberikan berdasarkan kebutuhan dan meritokrasi, bukan kedekatan maupun kepentingan tertentu.
“Akurasi sasaran harus menjadi prinsip utama. Jangan sampai beasiswa justru jatuh kepada mereka yang memiliki akses dan kemampuan, sementara anak-anak yang benar-benar membutuhkan justru tersisih. Keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi vonis bagi masa depan seorang anak Maluku Utara,” ujarnya.
Keterlibatan Cipayung Plus dalam program tersebut juga dinilai penting sebagai bagian dari mekanisme pengawasan sosial. Organisasi kepemudaan tidak cukup hanya menjadi peserta, tetapi harus mengambil posisi sebagai mitra kritisyang ikut memastikan proses seleksi berlangsung transparan, objektif, akuntabel, dan bebas dari intervensi kepentingan.
IMM Maluku Utara bahkan mendorong agar “Generasi Emas” tidak berhenti sebagai program transfer biaya pendidikan. Program tersebut idealnya dikembangkan menjadi ekosistem pembinaan generasi muda melalui pelatihan kepemimpinan, penguatan karakter, literasi digital, kewirausahaan, pengembangan kapasitas akademik, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Kami berharap Generasi Emas tidak berhenti pada pemberian beasiswa. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pembinaan. Anak-anak muda yang menerima beasiswa harus dipersiapkan menjadi intelektual, pemimpin, entrepreneur, dan warga negara yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap daerahnya,” kata Taufan.
Ia menambahkan, kolaborasi Polda Maluku Utara dan Cipayung Plus perlu diperluas dengan melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta berbagai elemen masyarakat. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar program pengembangan SDM tidak berjalan parsial dan kehilangan keberlanjutan.
Menurut Taufan, Maluku Utara kini membutuhkan perubahan paradigma pembangunan. Daerah yang kaya akan sumber daya alam tidak boleh terus mengukur keberhasilan pembangunan hanya dari jalan, gedung, proyek, dan angka investasi. Ukuran paling fundamental adalah sejauh mana pembangunan mampu meningkatkan kualitas manusianya.
“Kita memiliki tambang, laut, hutan, dan berbagai kekayaan alam. Tetapi pertanyaannya: siapa yang akan mengelola kekayaan itu dan untuk siapa manfaatnya? Jika SDM kita lemah, maka kekayaan alam hanya akan menjadi komoditas yang dinikmati pihak lain. Karena itu, membangun manusia Maluku Utara bukan pilihan tambahan, tetapi kebutuhan strategis,” pungkasnya.
Program Generasi Emas dengan demikian diharapkan menjadi lebih dari sekadar kebijakan bantuan pendidikan. Ia harus menjadi investasi peradaban—sebuah upaya membangun generasi yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga berintegritas, mandiri, kritis, produktif, dan memiliki keberpihakan terhadap masa depan Maluku Utara. (FP1)

