Demi Senyum Jahir: Tim AMPP TOGAMMOLOKA Rela Menembus Hutan, Kisah Perjuangan Melawan Angka Kemiskinan

Ketua AMPP TOGAMMOLOKA Maluku Utara, M Iram Galela bersama Kakek Latif Yusuf dan Istrinya, (Foto: Nafiar).

TERNATE — Sebuah video berdurasi singkat yang beredar pada 6 Agustus 2026 mendadak memicu gelombang keprihatinan di Maluku Utara. Dalam rekaman itu, Latif Yusuf, seorang kakek paruh baya dari Desa Batulak, Kecamatan Gane Barat Utara, Halmahera Selatan, bicara dengan suara bergetar. Ia meratapi nasib cucunya, Jahir Hayatu, yang gagal masuk Sekolah Rakyat Sofifi. Alasan penolakannya getir: di atas kertas administrasi birokrasi, keluarga Latif dianggap tidak masuk dalam kategori “miskin ekstrem”.

Nyatanya, realita di lapangan jauh dari sekadar angka statistika pemerintah. Garis kemiskinan yang kaku hampir saja memadamkan mimpi seorang anak pesisir untuk mengenyam pendidikan tingkat SMA.

Puluhan Kilometer Menembus Daratan Halmahera Selatan

Video itu untungnya tidak berhenti sebagai angin lalu di media sosial. Sorot mata penuh harap dari Tete Latif (sapaan akrab sang kakek) mengetuk pintu hati Muhammad Iram Galela, Ketua AMPP-TOGAMMOLOKA Maluku Utara. Iram tidak mau membuang waktu, pada tanggal 9 Agustus 2026, Iram bersama rekan Pengurusnya Nafiar Kuthani langsung berkemas dan bertolak dari Kota Ternate menuju daratan Halmahera Selatan menggunakan sepeda motor Scopy.

Perjalanan kedua anak muda ini bukan urusan mudah. Demi menemui Tete Latif, mereka harus menempuh jarak puluhan kilometer, dengan melintasi banyak titik jalan rusak di Halmahera Selatan, Mereka juga menembus lebatnya hutan, dan menyusuri garis pesisir panjang daratan yang karib disebut Bumi Saruma.

“Menanggapi aspirasi yang datang jauh di pesisir Halmahera Selatan, saya berinisiatif datang menelusuri hutan dan pesisir untuk bertemu langsung dengan Tete Latif,” ujar Iram saat diwawancarai pada Kamis, 14 Agustus 2026.

Bagi Iram, lelah fisik infrastruktur jalan yang rusak parah di sepanjang jalur trans-Halmahera bukanlah tandingan bagi taruhan masa depan seorang anak.

“Datang jauh dari Kota Ternate ke Halmahera Selatan, saya bertekad apa pun caranya anak itu harus bersekolah,” tegasnya.

Nyala Nadi Pendidikan yang Kembali Hidup

Setibanya di Desa Batulak, Iram dan Nafiar mendapati kondisi keluarga yang memang membutuhkan uluran tangan. Dialog hangat segera mencairkan suasana. Sebagai langkah darurat agar “nadi pendidikan tetap hidup”, Tim AMPP-TOGAMMOLOKA yakni Iram dan Nafiar langsung menyerahkan stimulus awal berupa bantuan sarana dan prasarana sekolah untuk Jahir.

Berita baik yang dinanti akhirnya tiba. Setelah melakukan koordinasi cepat dan intensif dengan pihak sekolahan, SMA 1 Muhammadiyah Kota Tidore Kepulauan tepat di tanggal 10-11 Agustus 2026, akhirnya pintu bagi Jahir Hayatu untuk menjadi peserta didik baru pun terbuka lebar.

“Kami sangat mengapresiasi Kepala Sekolah SMA 1 Muhammadiyah yang menerima dan bersedia menjadi tempat belajar Adik Jahir Hayatu, yang sempat semangatnya padam karena keterbatasan akses pendidikan,” ungkap Iram lega.

Ironi Pendidikan di Maluku Utara dan Nafas Legah Tete Latif

Kasus Jahir Hayatu hanyalah satu dari sekian banyak potret buram ketimpangan pendidikan di Maluku Utara. AMPP TOGAMMOLOKA telah mencatat ada masalah serupa yang telah AMPP sentuh dan ironinya itu berlokasi di Halmahera Selatan.

Iram juga menyebutkan, Maluku Utara, Sebagai provinsi maritim berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa dengan bentangan gugusan pulau yang luas, maka seharusnya akses terhadap fasilitas publik yang layak dapat diprioritaskan oleh Pemerintah Kabupaten dan Provinsi terutama Pendidikan di wilayah pelosok.

Iram menilai, sistem administrasi pengentasan kemiskinan yang diterapkan pemerintah sering kali menutup mata terhadap kondisi riil masyarakat pesisir. Labelisasi “miskin” atau “tidak miskin” di atas dokumen negara kerap kali justru meminggirkan hak-hak dasar anak bangsa.

Namun, bagi Iram dan Tete Latif, perjuangan kali ini berbuah manis. Kelelahan fisik menembus rimba Halmahera runtuh seketika saat melihat kepastian bahwa Jahir bisa kembali memakai seragam sekolah.

“Dengan kondisi latar belakang Tete Latif dan dengan harapan yang kuat untuk cucunya bersekolah, terbalaskan sudah lelah kami,” pungkas Iram penuh rasa syukur.

Kisah dari pesisir Batulak ini menjadi tamparan keras sekaligus bahan evaluasi bagi pemangku kebijakan. Bahwa di masa depan, jangan sampai ada lagi anak-anak Maluku Utara yang langkah kakinya terhenti menuju gerbang sekolah hanya karena kalah oleh rumitnya selembar kertas administrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup