Soroti Dampak Fast Fashion, Komunitas Saloi Halmahera Gelar Nobar dan Diskusi Film Dokumenter Menolak Punah

Nobar film dokumenter di Caffe Sua, Benteng Oranje, Kota Ternate (Foto: Istimewa).

TERNATE – Komunitas Saloi Halmahera menggelar kegiatan nonton bersama (nobar) dan diskusi film dokumenter Menolak Punah di Cafe Sua, Kawasan Benteng Oranje, Kota Ternate, Minggu (26/07/2026).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap dampak industri fast fashion terhadap lingkungan, kesehatan, dan keberlangsungan budaya tekstil lokal.

Film berdurasi 1 jam 8 menit yang dirilis pada 2026 ini disutradarai oleh Aji Yahuti dan Dandhy Laksono sebagai bagian dari rangkaian Ekspedisi Indonesia Baru.

Dokumenter tersebut mengangkat persoalan tingginya konsumsi pakaian, limbah fesyen, ketergantungan Indonesia terhadap impor kapas yang mencapai 99 persen, hingga ancaman terhadap keberlangsungan industri tekstil dan tradisi tenun Nusantara.

Direktur Saloi Halmahera, Djul Fikram Isra Malayu, mengatakan pemutaran film ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi bagi masyarakat untuk memahami dampak kebiasaan konsumtif terhadap lingkungan.

“Film ini memperlihatkan bagaimana kebiasaan konsumtif kita berdampak langsung pada alam dan mengancam keberlangsungan budaya slow fashion. Kami berharap melalui diskusi ini masyarakat semakin bijak dalam membeli dan menggunakan pakaian, serta mendukung pelestarian tradisi tekstil yang ramah lingkungan,” ujar Djul Fikram.

Dalam film tersebut diceritakan bahwa tiga dari sepuluh orang Indonesia membuang pakaian yang baru sekali dipakai. Fenomena itu memperlihatkan besarnya persoalan konsumsi fesyen yang memicu penumpukan limbah tekstil.

Di sisi lain, proses produksi pakaian juga berkontribusi terhadap pencemaran air, polusi udara, emisi karbon, hingga pelepasan mikroplastik yang berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Pada nobar , Komunitas Saloi Halmahera juga menyoroti kondisi industri tekstil nasional yang tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor garmen hingga tergerusnya budaya berpakaian dan produksi tekstil berbasis slow fashion yang lebih berkelanjutan.

Berawal dari pertanyaan mengenai mengapa Indonesia masih mengimpor sekitar 99 persen kebutuhan kapas, film ini menelusuri persoalan dari hulu hingga hilir industri sandang nasional.

Selain membahas limbah fesyen dan dampaknya terhadap lingkungan, dokumenter ini juga mengangkat kisah para pegiat tenun, komunitas lingkungan, dan berbagai pihak yang berupaya mempertahankan tradisi tekstil Nusantara agar tidak punah.

Djul Fikram juga menjelaskan, Film dokumenter Menolak Punah merupakan hasil kolaborasi Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang.

Melalui pemutaran dan diskusi tersebut, Komunitas Saloi Halmahera berharap lahir kesadaran kolektif untuk mengurangi konsumsi fast fashion, mendukung produk tekstil lokal yang berkelanjutan, serta menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Indonesia. (Fj1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup